Inovasi
& Kreatifitas
Perbedaan
antara orang yang sukses dengan orang yang gagal letaknya di bidang
rohani. Apa yang biasa orang pikirkan, oleh seseorang menentukan apa yang akan
dicapainya. Ini berlaku di lapangan niaga maupun lapangan-lapangan lain.
Jika seseorang dapat berpikir dengan cerdas dan kreatif, maka orang tersebut
akan mendapat hasil-hasil tertentu. Jika pikiran-pikirannya tidak menentu
dan tidak diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, maka hasilnya pun akan
mengecewakan.
Kekuatan
yang dimiliki oleh setiap manusia yang sering disebut dengan daya
khayal, dan dengan daya khayal inilah manusia dapat mencapai kemauan yang
tinggi dan kesanggupannya dalam menemukan segala hal. Daya khayal dapat
dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu daya khayal sintesis dan daya
khayal kreatif. Daya khayal sintesis adalah untuk tidak menciptakan hal
yang baru, tetapi membentuk dan menyusun yang lama dalam bentuk kombinasi baru.
Sedangkan daya khayal kreatif adalah menciptakan hal-hal baru terutama apabila
daya khayal sintesis tidak bisa bekerja dalam memecahkan suatu masalah.
Melalui
daya khayal kreatif ini alam pikiran manusia yang terbatas dapat
berhubungan langsung dengan alam pikiran halusnya. Barangkali alam pikiran
inilah yang menyalurkan inspirasi atau ilham dan menyampaikan gagasan baru
sebagai hasilnya menjadi alat bagi manusia untuk menyesuaikan getaran dalam
dirinya dengan getaran dalam diri orang lain. Daya khayal biasanya bekerja
secara otomatis dan hanya bekerja jika alam pikiran yang sadar bergerak dengan
kecepatan yang luar biasa seperti mendapatkan dorongan dari suatu emosi yang
ditimbulkan oleh keinginan yang kuat. Dalam hubungan ini, berpikir kreatifnya
seorang dapat merombak dan kemudian mendorongnya dalam pengembangan lingkungan
menjadi berhasil.
Untuk
kreativitas, ia dapat dikembangkan melalui peningkatan jumlah dan ragam masukan
ke otak, terutama tentang hal-hal yang baru, dengan memanfaatkan daya ingat,
daya khayal dan daya serap dari otak akan dapat ditumbuhkan berbagai ide baru
menuju kreativitas.
Kreativitas
adalah karya yang merupakan hasil pemikiran dan gagasan. Ada rangkaian proses
yang panjang dan harus digarap terlebih dahulu sebelum suatu gagasan menjadi
suatu karya. Rangkaian tersebut antara lain meliputi fiksasi (pengikatan, pemantapan)
dan formulasi gagasan, penyusunan rencana, dan program tindakan nyata yang
harus dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun untuk mewujudkan
gagasan tersebut.
Kreativitas
merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Namun,
kemampuan ini berbeda dari satu orang terhadap orang lainnya.
Kemampuan dan bakat merupakan dasarnya, tetapi pengetahuan dari lingkungannya
dapat juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Selama ini ada anggapan yang
salah mengenai orang yang kreatif. Ada yang mengatakan hanya orang
jenius/pintar saja yang memiliki kreativitas. Kreativitas bukanlah suatu bakat
misterius yang diperuntukkan hanya bagi segelintir orang. Mengingat kreativitas
merupakan suatu cara pandang yang sering kali justru dilakukan secara tidak
logis. Proses ini melibatkan hubungan antar banyak hal dimana orang lain
kadang-kadang tidak atau belum memikirkannya.
Yang
dimaksud dengan kreativitas dalam hal ini adalah menghadirkan suatu
gagasan baru. Kreativitas itu merupakan sebuah proses yang dapat
dikembangkan dan ditingkatkan. Kita harus mengetahui bahwa kreativitas
tiap-tiap orang berbeda-beda, kemampuan seseorang dalam bakat, pengetahuan, dan
lingkungan juga dapat mempengaruhi kreativitas. Kreativitas merupakan
sumber yang penting dari kekuatan persaingan karena adanya perubahan
lingkungan.
Menurut
Goman (1991), Inovasi merupakan penerapan secara praktis gagasan
kreatif. Inovasi tercipta karena adanya kreativitas yang tinggi.
Kreativitas adalah kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru ke dalam
kehidupan.
Randsepp,
menyebutkan ciri-ciri tentang pemikiran kreatif sebagai berikut :
§
sensitif
terhadap masalah-masalah,
§
mampu
menghasilkan sejumlah ide besar,
§
fleksibel,
§
keaslian
§
mau
mendengarkan perasaan,
§
keterbukaan
pada gejala bawah sadar,
§
mempunyai
motivasi,
§
bebas
dari rasa takut gagal,
§
mampu
berkonsentrasi, dan
§
mempunyai
kemampuan memilih.
Seorang
yang memliki daya pengembangan kreativitas yang tinggi akan dapat
merombak dan mendorongnya di dalam pengembangan lingkungan usahanya menjadi
berhasil. Karena dengan kreativitas seorang dapat
§
meningkatkan
efisiensi kerja,
§
meningkatkan
inisiatif,
§
meningkatkan
penampilan,
§
meningkatkan
mutu produk, dan
§
meningkatkan
keuntungan.
Untuk
memacu kreativitas yang tinggi ada 4 tahapan menurut Edward de Bono (1970)
dalam proses kreatif, yaitu
a) Latar Belakang atau Akumulasi Pengetahuan.
Kreasi
yang baik biasanya didahului oleh penyelidikan dan pengumpulan informasi. Hal
ini meliputi membaca, berbicara dengan orang lain, menghadiri pertemuan
pro-fesional dan penyerapan informasi sehubungan dengan masalah yang tengah
digeluti. Sebagai tambahan dapat juga menerjuni lahan yang berbeda dengan
masalah kita karena hal ini dapat memperluas wawasan dan memberikan sudut
pandang yang berbeda-beda.
b) Proses Inkubasi
Dalam
tahap ini seseorang tidak selalu harus terus-menerus memikirkan masalah yang
tengah dihadapinya, tetapi ia dapat sambil melakukan kegiatan lain, yang biasa,
yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah. Akan tetapi, ada
waktu-waktu tertentu di mana ia harus menyempatkan diri memikirkan masalah ini
untuk pemecahannya.
c) Melahirkan Ide
Ide
atau solusi yang seirama ini dicari-cari mulai ditemukan. Terkadang ide muncul
pada saat yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang ada. Ia bisa muncul
tiba-tiba. Di sini ia harus dapat dengan cepat dan tanggap menangkap dan
memformulasikan baik ide maupun pemecahan masalah lanjutan dari ide tersebut.
d. Evaluasi dan Implementasi
Tahap
ini merupakan tahap tersulit dalam tahapan-tahapan proses kreativitas
karena dalam tahap ini seseorang harus lebih serius, disiplin, dan benar-benar
berkonsentrasi. Seseorang yang sukses dapat mengidentifikasi ide-ide yang
mungkin dapat dikerjakan dan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Lebih
penting lagi, ia tidak menyerah begitu saja bila menghadapi hambatan. Bahkan
biasanya ia baru akan berhasil mengembangkan ide-ide setelah beberapa kali
mencoba. Hal penting lain dalam tahapan ini adalah di mana seseorang
mencoba-coba kembali ide-ide sampai menemukan bentuk finalnya karena ide yang
muncul pada tahap (c) tadi biasanya dalam bentuk yang tidak sempurna.
Jadi, masih perlu dimodifikasi dan diuji untuk mendapatkan bentuk yang baku dan
matang dari ide tersebut.
Menurut
Kao (1989), ada beberapa hal yang dapat merintangi atau menghambat pimikiran
kreativitas dilihat dari prilaku seorang adalah sebagai berikut :
§
Mengagungkan
tradisi dan budaya yang dibuat,
§
Memperkecil
ketersediaan sumber-sumber yang dibutuhkan,
§
Lebih
menekankan pada prilaku struktur birokrasi,
§
Menekankan
pada nilai yang menghalangi pengambilan resiko,
§
Lebih
menyukai spesialisasi,
§
Komunikasi
yang lemah,
§
Mematikan
sesuatu contoh,
§
Sistem
pengendalian yang kuat atau tidak lentur,
§
Menekankan
denda atau hukuman atas kegagalan atau kesalahan,
§
Mengawasi
aktivitas kreativitas, dan
§
Menekankan
batas waktu.
Untuk
menghindari hal-hal di atas, kita harus membuang sejauh mungkin setiap hambatan
mental yang mengganggu proses berpikir kita. Daya imajinasi baru mempunyai arti
bagi hidup kita apabila bercampur dan bekerjasama dengan daya pikiran kita.
Pikiran kita dapat berakibat dua hal, mungkin menolong mungkin juga menghambat
usaha kita.
Pemikiran
yang simpang siur menunjukkan pemikiran yang tidak kreatif. Pemikiran kita akan
kreatif apabila proses berpikir kita berlangsung secara ilmiah. Proses berfikir
ilmiah berlangsung dengan langkah-langkah yang sistematis, berorientasi pada
tujuan serta menggunkanan pola atau metode tertentu untuk memecahkan
masalah. Pada dasarnya, pemikiran ilmiah dapat berlangsung dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
§
Merumuskan
atau mengenang tujuan, keinginan, dan kebutuhan baik bagi diri sendiri maupun
bagi pihak lain.
§
Merumuskan
atau mengenang permasalahan yang berhubungan dengan usaha untuk mencapai atau
memenuhi tujuan, keinginan dan kebutuhan di atas.
§
Menghimpun
atau mengenang fakta-fakta obyektif yang berhubungan dengan obyek yang sedang
kita pikirkan.
§
Mengolah
fakta-fakta itu dengan pola berpikir tertentu, baik secara induktif ataupun
deduktif, atau mencari hubungan antarfakta sehingga ditemukan berbagai
alternatif.
§
Memilih
alternatif yang dirasa paling tepat.
§
Menguji
alternative itu dengan mempertimbangkan hukum sebab akibat sehingga ditemukan
manfaat alternatif itu bagi kehidupan.
§
Menemukan
dan meyakini gagasan.
§
Mencetuskan
gagasan itu, baik secara lisan maupun tertulis.
Kalau
kita perhatikan proses berpikir yang digambarkan di atas, ternyata berpikir
ilmiah itu masih melibatkan fungsi-fungsi kejiwaan yang lain, misalnya
keinginan, perasaan, kemauan, imajinasi, ingatan dan perhatian. Oleh karena
itu, pemikiran kreatif harus ditunjang oleh suatu kepribadian yang kuat.
Menurut
Solomom dan Winslow (1988) ada beberapa ciri seseorang yang kreatif itu,
diantaranya adalah sebagai berikut :
§
Pintar
tetapi tak harus brilian karena kreativitas tidak selalu secara
langsung berhubungan dengan tingginya intelegensi seseorang.
§
Berkemampuan
baik dalam menjalankan ide-ide yang berbeda dalam waktu yang singkat.
§
Memiliki
pandangan positif terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, menyukai
dirinya dan memiliki rasa percaya diri.
§
Cenderung
kaya kehidupan fantasi.
§
Termotivasi
oleh masalah-masalah yang menantang.
§
Dapat
memendam keputusan sampai cukup fakta terkumpul.
§
Menghargai
kebebasan dan tidak hanya memerlukan persetujuan rekan lainnya.
§
Peka
terhadap lingkungan dan perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya.
§
Fleksibel.
§
Lebih
mementingkan arti dan implikasi sebuah problem daripada detailnya.
Berikut
ini adalah hal-hal yang dapat membantu mengembangkan kemampuan pribadi dalam
program peningkatan kreativitas sebagaimana dikemukakan oleh James L. Adams
(1986) :
a.
Mengenali hubungan
Banyak
penemuan dan inovasi lahir sebagai cara pandang terhadap suatu hubungan yang
baru dan berbeda antara objek, proses, bahan, teknologi, dan orang. Seperti
mencampurkan aroma bunga melati dengan air teh kemudian dibotolkan menjadi teh
botol yang harum dan segar rasanya. Untuk membantu meningkatkan kreativitas,
kita dapat melakukan cara pandang kita yang statis terhadap hubungan
orang dan lingkungan yang telah ada. Dari sini kita coba melihat mereka dengan
cara pandang yang baru dan berbeda. Orang yang kreatif akan memiliki
intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru dan
berbeda dari fenomena tersebut. Hubungan ini nantinya dapat emperlihatkan
ide-ide, produk dan jasa yang baru. Sebagai contoh, kita dapat melakukan
latihan dengan melihat hubungan antara pasangan-pasangan: suami-istri, kue
coklat dan es krim vanili, atlet dan pelatih serta manajer de-ngan buruh.
b.
Pengembangan Perspektif Fungsional
Kita
dapat melihat adanya suatu perspektif yang fungsional dari benda dan orang.
Seseorang yang kreatif akan dapat melihat orang lain sebagai alat untuk
memenuhi keinginannya dan mem-bantu menyelesaikan suatu pekerjaan. Misalnya,
sering secara tidak sadar kita menggunakan pisau dapur untuk memasang baut
gara-gara palu yang kita cari tidak ketemu. Cara lain, kita harus me-mulainya
dari cara pandang yang nonkonvensional dan dari perspektif yang berbeda.
Sebagai contoh, cobalah sebutkan fungsi lain dari sebuah kursi, batang korek
api, dan lain-lain.
c.
Gunakan Akal
Fungsi
otak pada bagian yang terpisah antara kiri dan kanan telah dilakukan sejak
tahun 1950-an dan tahun 1960-an. Otak bagian kanan dipakai untuk hal-hal
seperi analogi, imajinasi, dan lain-lain. Sedangkan otak bagian kiri dipakai
untuk kerja-kerja seperti analisis, melakukan pendekatan yang rasional terhadap
pemecahan masalah, dan lain-lain. Meski secara fungsi ia berbeda, tetapi dalam
kerjanya ia harus saling berhubungan. Proses kreativitas meliputi pemikiran
logis dan anlitis terhadap pengetahuan, evaluasi dan tahap-tahap implementasi.
Jadi, bila kita ingin lebih kreatif, kita harus melatih dan
mengembangkankemampuan kedua belah otak kita tersebut.
d.
Hapus Perasaan Ragu-ragu
Kebiasaan
mental yang membatasi dan menghambat pemikiran kreatif, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1.
Pemikiran Lain, Perkembangan kehidupan seseorang banyak
terpenuhi oleh hal-hal yang tidak pasti dan meragukan. Banyak orang
yang menyerah dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapi. Bagi orang yang kreatif
lebih baik belajar menerima keadaan tersebut dalam hidupnya, bahkan mereka
sering menemukan sesuatu yang berharga dalam kondisi tersebut.
2.
Mencari Selamat, Dalam kehidupannya orang akan cenderung menghindari risiko seminimal
mungkin, tetapi seorang inovator akan senang menghadapi risiko, misalnya risiko
kesalahan atau kegagalan. Bahkan kegagalan dianggap sebagai
permainan yang menarik yang dapat dijadikan guru yang baik untuk keberhasilan
di masa yang akan datang.
3.
Stereotipe, Sepertinya sudah ada ketentuan atau karakteristik tertentu untuk
suatu hal, begitu pula halnya akan kesuksesan yang dapat diraih. Karena
keterbatasan ini, seseorang yang ingin melakukan suatu hal, karena asas
stereotipe ini, akan terlimitasi cara pandang dan persepsinya terhadap
kemungkinan lain yang sebenarnya dapat diraih.
4.
Pemikiran Kemungkinan/Probabilitas, Guna memperoleh keamanan dalam membuat
keputusan, seseorang akan cenderung percaya kepada teori kemungkinan.
Bila berlebihan, maka hal ini hanya akan menghambat seseorang mencari
kesempatan yang hanya akan datang sekali saja dalam hidupnya.
Menurut
pendapat Kao (1989), ada beberapa hal yang dapat menumbuhkan bahkan
mengembangkan pemikiran kreativitas dilihat dari prilaku seseorang, sebagai
berikut :
§
Menciptakan
struktur organisasi terbuka dan desentraslisasi,
§
Mendukung
budaya yang memberi kesempatan atas percobaan,
§
Menekankan
pada peran dari pemegang atau juara,
§
Tersedianya
semua sumber atas sesuatu inisiatif baru,
§
Mendorong
sikap eksperimental,
§
Berikan
kebebasan,
§
Tanpa
bebas waktu,
§
Memberikan
hal-hal yang berhasil,
§
Hindari
mematikan ide-ide baru,
§
Singkirkan
birokrasi dari pengalokasian sumber,
§
Beri
penghargaan atas suatu keberhasilan,
§
Ciptakan
budaya pengambilan resiko,
§
Kurangi
hal-hal yang bersifat administratife,
§
Memberikan
kebebasan untuk melakukan kesalahan,
§
Komunikasi
efektif pada semua tingkatan, dan
§
Delegasikan
tanggung jawab untuk mulai tugas baru.
Menurut
analisis Guilford, ada lima faktor sifat yang menjadi cirri kemampuan berpikir
kreatif :
1. fluency (kelancaran), adalah
kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan,
2. fleksibility (keluwesan), adalah
kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap
masalah,
3. originality (keaslian), adalah
kemampuan untuk mencetus gagasan dengan cara asli dan tidak klise,
4. elaboration (penguraian), adalah
kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara lebih rinci,
5. redefinition (Perumusan kembali),
adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda
dengan apa yang sudah diketahui oleh orang banyak,
Sedangkan
manusia yang memiliki pemikiran kreatif, menurut A. Roe (Kao, 1989), memilki
ciri-ciri sebagai berikut :
§
melihat
sesuatu dengan cara yang tidak biasa,
§
keingintahuan,
§
menerima
dan menyesuaikan yang kelihatannya berlawanan,
§
percaya
pada diri sendiri,
§
tekun,
§
dapat
menerima perbedaan,
§
keterbukaan
pada pengalaman,
§
independen
dalam pertimbangan, pemikiran, dan tindakan,
§
membutuhkan
dan menerima otonomi,
§
tidak
hanya tunduk pada stAndar dan pengawasan kelompok, dan
§
Mau
mengambil resiko yang telah diperhitungkan.
Untuk
Inovasi, dalam prosesnya, penerapan kemampuan berinovasi menurut
Kuratko (1955) ada empat jenis inovasi, yaitu penemuan ( Invensi),
pengembangan (Eksistensi), Penggandaan (Duplikasi), dan Sintesis.
Adapun
beberapa faktor yang dapat mendukung tercapainya keberhasilan penerapan
kemampuan inovasi-inovasi menurut James Brian Quinn (1955) adalah sebagai
berikut:
§
Iklim
inovasi dan visi, dimana perusahaan yang inovasi mempunyai visi yang
singkat dan jelas serta memberi dukungan nyata untuk terwujudnya suasana
inovasi.
§
Orientasinya
pada pasar. Perusahaan yang berinovasi melandaskan visi mereka yang ada pada
pasar.
§
Organisasi
yang tetap datar dan kecil. Kebanyakan perusahaan yang inovasi berusaha menjaga
keseluruhan perusahaan tetap datar serta tim proyek yang kecil.
§
Proses
belajar interaktif, dimana di dalam suatu lingkungan yang inovasi, proses
belajar dan penelitian ide-ide mengabaikan garis fungsi tradisional dalam suatu
perusahaan.
Untuk
tahap-tahap inovasi dapat dikelompokkan menjadi dua fase:
a.
Penciptaan inovasi, yaitu kreasi gagasan dan pemecahan masalah bagi produk atau
solusi produk.
b.
Adopsi inovasi, yakni akuisisi atau implementasi inovasi yang menjadikan sumber
peluang dari inovasi itu.
Jenis,
bentuk dan motif apa pun apakah inovasi itu sederhana atau radikal
merupakan sebuah bentuk kesadaran. Sebagian besar gagasan inovasi muncul
lewat analisis peluang yang sistematis dan bertujuan. Dalam upaya
mempertahankan identitas dan kelangsungan hidup inovasi itu memerlukan
pengetahuan, kemurnian, keteguhan, dan kerja keras. Tuomi (1999) berpendapat
bahwa proses utama inovasi terkait dengan pembaharuan dan
pertumbuhan inovasi sendiri, dan ini merupakan penyebab utama adanya
pertumbuhan dan pembaharuan.
Inovasi
dikenal secara luas di kalangan dunia bisnis dan tujuan utamanya adalah
melaksanakan kegiatan ekonomi dan menjadi instrumen penting untuk mencapai
serta melestarikan keunggulan daya saing di dalam bisnis.
Tujuan
awal inovasi adalah menjadi pembuat norma dan menciptakan bisnis yang berada di
depan. Akan tetapi, terutama di dalam dunia bisnis, sering kali inovasi yang
efektif adalah inovasi yang sederhana dan fokusnya melakukan atau membuat satu
hal. Inovasi adalah merupakan hasil kerja keras yang memerlukan pengetahuan dan
kemurnian berwirausaha. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak seorang pun
dapat memastikan, apakah inovasi itu akan mengakhiri sebuah bisnis besar,
mengubah aturan main, atau hanya sebuah prestasi biasa.
Inovasi
dapat dianalisis pada level nasional organisasi, kelompok atau individu. Di
sini seorang harus mampu mengelola empat fase pembuatan inovasi proses
yaitu sebagai berikut:
§
Pengamatan
dan penyelidikan terhadap lingkungan, baik internal maupun eksternal.
§
Pilihan
terhadap adanya pemicu terhadap inovasi.
§
Adanya
opsi sumber daya dan penciptaan melalui riset. Pengembangan sumber daya yang
diperoleh melalui pengalihan teknologi dan adanya sumber daya pengetahuan untuk
dilaksanakan seorang Wirausaha.
§
Penerapan
inovasi lahir dari gagasan-gagasan, ide-ide, melalui berbagai tahap
pengembangan untuk dilimpahkan sebagai produk atau pelayanan baru pada pasar
eksternal, metode baru atau proses baru.
Untuk
dimensi tipe-tipe inovasi, tahapan-tahapan inovasi, dan level analisisnya
adalah sebagai berikut:
§
Inovasi produk, adalah hasil dari organisasi perusahaan.
§
Inovasi administrasi, adalah inovasi yang terkait dengan
manajemen, serta berorientasi dengan proses struktur, manajemen sumber
daya manusia (SDM), dan sistem akuntansi.
§
c.
Inovasi kontinum, adalah sebagai inkremental ke radikal menurut tingkat
perubahan yang diinginkan untuk melaksanakan inovasi.
§
Inovasi proses, adalah upaya untuk menghasilkan produk atau
pelayanan yang baik.
§
Inovasi teknik, adalah inovasi yang terkait
langsung dengan produksi produk.
Inovasi
merupakan proses yang terus menerus dan
tidak pernah berakhir sebab selalu ada potensi pengembangan. Inovasi
terhadap produk akan membawa perkembangan dan perubahan dalam ekonomi.
Kreativitas
merupakan bahan bakunya. Inovasi merupakan hasil komersial. Jadi, sesuatu
yang baru belum tentu inovasi jika yang dihasilkan itu tidak merupakan
sesuatu yang lebih baik. Inovasi dalam bisnis yang menghasilkan produk dan
jasa yang berkualitas adalah hasil dari tindakan yang bersedia memikul
resiko. Insya Allah, setiap perjuangan dan kekalahan akan meningkatkan
keahlian, kemampuan, dan dapat mempertebal keyakinan.
———-
REFERENSI ———
§
Carol
Kinsey Goman. 1999, Kreativitas Dalam
Bisnis, Binarupa Aksara, Jakarta.
§
Kao,
John. 1989. Entrepreneurship, Creativity and Organization, Taxs, Cases
§
and Readings, Englewood cliffs, New
Jesey,Prentice Hall.
§
Kuratko,
Donal F. and Richard M, Hodgets, 1995.
Entrepreneurship,
§
A.
Contemporary Approach, 3rd edition, the Dryden Press.
§
Diambil
dari : http://fikux.blogspot.com/
§
Diambil
dari : http://myblogkujira.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar